website-gamerz izhar-technology
Wizardwere
XKRESSSX-TECHNOLOGY FARHAN-TEKHNOLOGI FARLI-BERBAGI technology-sph
technology-sph
technology-sph
technology-sph
Technology SPH

Belajar dari Bintang Kejora

Saat maghrib tiba tengoklah langit barat. Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Awan tipis musim kemarau ini tak mampu membendung sinarnya. Itulah bintang kejora, menurut Ibnu Abas disebut bintang Musytari, bangsa Romawi dan Yunani yang mempertuhankan bintang, merupakan bintang yang paling agung.

Bila muncul saat shubuh di langit timur bintang cemerlang itu disebut bintang timur, menurut Qatadah disebut bintang Zuhrah. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bangsa Kaldani merupakan kaum Nabi Ibrahim yang menyembah bintang. Nabi Ibrahim mulai bertanya, apakah bintang yang bersinar ini Tuhanku yang layak aku sembah?

Mengamati langit, terasa nuasa semasa Nabi Ibrahim merenungi alam, mencari representasi Tuhan yang hakiki (Q. S. Al An’am, ayat 76-79).

Saat malam mulai gelap tampaklah sebuah bintang. “Inikah Tuhanku” kata Ibrahim. Tetapi bintang kejora tak lama tampak. Sekitar pukul 21.00 bintang kejora pun terbenam. Nabi Ibrahim pun berkata, “Aku tak menyukai yang tenggelam.”

Hatinya mulai tidak tertarik kepada bintang yang bercahaya itu, karena saat hati kesengsem, dia pun menghilang. Pantaslah ini disebut Tuhan!

Beberapa saat kemudian terbitlah bulan yang cemerlang pasca purnama. “Inilah Tuhanku” katanya. Namun saat pagi bulan pun memudar kemegahannya. Ibrahim pun berujar pada dirinya, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat.” (ayat 77).

Bulan menyinari bumi lebih luas dari pada bintang, sinarnya dapat membuat orang terpesona, berkhayal dan bisa jadi memujanya. Tapi begitu sinarnya meredup dan menghilang di saat fajar, Ibrahim semakin tambah insaf dari pada keinsafan saat bintang menghilang, kalau sekiranya Allah tidak menunjukinya, merasalah dia akan semakin tersesat oleh khayalannya sendiri. Cahaya bulan hanya remang-remang, tidak sanggup membedakan warna, maka cahaya bulan hanya mempesona khayalan, bukan menjelaskan kenyataan

Saat pagi dilihatnya matahari yang paling cemerlang yang mengalahkan segala sumber cahaya. “Inilah Tuhanku, ini paling besar”, ujar Ibrahim dalam pencarian kebenaran. Tetapi saat maghrib matahari pun menghilang. Tidak mungkin Tuhan yang Mahakuasa bisa lenyap. Maka diserulah kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kamu persekutukan (dengan Tuhan) .” (ayat 78).

Saat fajar tiba cahaya matahari mampu memadamkan sinar bulan dan bintang, disambut kegembiraan margasatwa, ayam berkokok, burung berkicau,kehidupan mulai terjadi, sehingga ada yang percaya bahwa matahari sebagai tuhan pemberi hidup.

Tetapi begitu senja datang dan mataharipun tenggelam, Ibrahim semakin tidak yakin kalau Tuhan itu bisa tenggelam, pasti ada kekuasaan yang lebih besar dan mengatur alam ini, maka Ibrahim terlepas dari orang-orang yang menuhankan sang surya itu.

Kesimpulan pembuktian aqliyah tersebut tentang eksistensi Allah diabadikan di dalam QS. Al An’am, ayat 79 yang selalu kita baca dalam doa iftitah pada awal shalat: “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi, berpendirian lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Kisah itu memberi pelajaran penting bagi manusia. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan jabatan, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya.

Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intristik (mendasar ) pada objek itu. Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi.

Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. bahkan lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.

Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang. Banyak orang mengaku sebagai tokoh pembela rakyat, sehingga rakyat terpesona dengan ucapannya, padahal hanya sebatas kata, tidak ada kenyataannya.

Kenapa bisa? Karena dia besar bukan karena kebajikannya, bukan karena kedekatannya dengan rakyat, bukan karena kepandaiannya, dia besar karena pantulan sinar kebesaran dari orang tuanya, keluarga dan sahabatnya, laksana planet venus bersinar hanya sesaat setelah itu lenyap.

Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan fenomena bintang kejora adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Dunia Wayang


Petruk, Bagong, Nakulo, Semar dan nama-nama tokoh khayalan yang lain, yang tak pernah penulis paham ketika sang dalang menggerak-gerikkan lempengan kulit yang dibentuk gambar manusia dari berbagai macam bentuk, sambil berbicara sendirian sang dalang terus berdialog dengan dirinya sendiri, kadang dia bersuara lembut dan sopan, kadang juga bersuara lantang dan kasar, kadang dia juga mengeluarkan kata-kata mutiara, kadang juga membikin humor, dan humor inilah hal yang sangat mudah difahami oleh semua orang, termasuk saya ikut tertawa ketika dagelan sudah dimulai.

Penulis pernah mendengar, ungkapan dalam bahasa arab, fatruk ma bagho nala samirina, hampir mirip dengan tokoh wayang yang saya sebut diatas, petruk, bagong, nakulo, dan semar. Ketika hal itu diterjemahkan menjadi tinggalkan sesuatu yang durhaka maka engkau akan mendapatkan kawan yang baik. Secara pasti penulis kurang tahu tentang wayang dan sejarah munculnya, namun setidaknya penulis mengenal beberapa tokoh wayang, Petruk misalnya, dalam masa awal saya belajar bahasa arab, ada gambar petruk, hidungnya panjang tapi tidak terus memanjang seperti hidung pinokio, lencir kuru, rambutnya seperti antena radio. Juga semar orangnya gede, wajahnya menghadap keatas namun tangannya menunjuk-nunjuk tanah, dan tangan yang satunya ditaruh diatas punggung, cara berjalannya agak jongkok seperti ibu-ibu jawa yang sedang menyapu halaman rumahnya.

Permulaan pementasan wayang dimulai dengan gunung yang berterbangan begitu pula penutupannya, hampir mirip dengan konsep awal alam semesta yang terjadi setelah ledakan besar, terkenal dengan big bang, menurut para ahli sains, yang pada akhirnya mengakui bahwa alam raya benar-benar diciptakan oleh Allah tuhan semesta alam. Begitu pula nanti penutupan alam semesta gunung-gunung pun berterbangan Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan QS : Al Qoriah (101) : 5.

Layar wayang terdiri dari dua sisi, kanan dan kiri, setiap sisi akan diisi oleh wayang yang besar sampai kecil, semuanya adalah mati dan tak berguna sebelum sang dalang menggerakkannya, serta mengisi suara untuk wayang itu hingga seolah wayang itu itu hidup dan bisa berbicara, setiap rupa wayang konon merupakan bentuk cerminan manusia, dan setiap wayang punya sifat sendiri-sendiri, serta sikap sendiri-sendiri, ada yang baik ada juga yang jahat jumlah dua kubu itu seimbang, namun yang akan berperang dimedan laga hanyalah wayang-wayang pilihan yang telah dipilih oleh sang dalang dan ditaruh dikotak yang dekat dengan dalang.


Setiap wayang yang perang punya senjata khusus, baik dipihak yang benar maupun pihak yang salah, mereka sama-sama punya aji-aji,sama-sama punya pendukung, namun keputusan siapakah yang menjadi pemenang itu hak sang dalang.

Jika anda jadi penonton sinetron biasanya anda dikerjai sama sutradara, biasanya ada tokoh yang sangat menjengkelkan dan nggak mati-mati, begitu pula sang dalang, sudah tahu wayang yang jahat namun kok nggak kalah-kalah, jadi teringat sejarah abu lahab yang jahat terhadap nabi Muhammad, kok nggak mati-mati, eh ternyata hidup dan mati ada ditangan sang dalang.

Pernahkah anda menjumpai dalang yang ngantuk? Tentu tidak, sepanjang malam itu dalang tidak akan ngantuk, tidak akan lelah bicara sendiri, tidak akan lelah bermain wayang dan mengisi suara-suaranya, bahkan suara perempuan, apa yang terjadi ketika dalang tiba-tiba pengen ketoilet, bisa jadi wayangnya kocar-kacir. Begitu pula Allah yang mengatur alam raya ini tak pernah ngantuk, yang maha kuat dan tak akan pernah lelah, yang tak akan lelah mementaskan kehidupan ini sampai kapan saja Dia mau.

Dalang dalam perwayangan hanya bisa menggerakan dua wayang dan bicaranya bergantian tak akan bersamaan. Dalang dalam perfileman bisa menggerakkan ratusan bahkan ribuan orang dengan suaranya masing-masing dan bisa berbicara secara bersamaan. Dalang dalang pemerintahan bisa menggerakkan jutaan mahluk hidup bahkan bisa menggerakan ekonomi, Dalang dalam kehidupan dapat menggerakkan segala alam raya, manusia, hewan, serta mengisi suara mereka secara bersamaan, menggerakkan mereka, Dialah Allah dalang dari segala sesuatu.

Pernahkah wayang merasa dirinya digerakkan sang dalang? Tahukah anda kenapa bumi tidak berapa diposisi merkurius? Atau menggantikan posisi pluto yang kini diusir dari planet galaksi bima sakti? Jika bumi dipindah diposisi merkurius tentu akan menjadi lava pijar karena terlalu dekat dengan matahari, yang tak akan bisa di huni oleh segala macam makhluk hidup, begitu pula jika dipindah diposisi pluto tentu akan beku.

Kita ibarat wayang yang berjajar rapi didua sisi layar pewayangan yang akan bergerak dan kembali diam sesuai keinginan sang dalang, namun kita bukanlah wayang kulit, kita adalah wayang peradaban, kita dibekali akal pikiran agar tidak seperti wayang kulit yang digerakkan manusia dalang. Dalang kita adalah Maha Dalang, dan kita menjadi maha wayang, jika manusia-dalang hanya mampu menjadi dalang semalam suntuk, namun Allah menjadi dalang sepanjang masa. Jika wayang kulit bisa berfikir tentu akan ikut membaca tulisan saya ini (he he he).

Ingatlah bahwa wayang tak akan mampu melawan dalang, sebesar apapun bentuk wayang, atau sekuat apapun gatotkaca, begitu pula aktor tak akan mampu melawan sutradara, bahkan melanggar aturan sutradara bisa kena sangsi dan tidak diberi gaji, begitu pula melawan Allah bisa mendapat sangsi abadi. Marilah kita berbuat baik yang sepenuhnya, jangan hanya untuk memburu nafsu duniawi semata. Bukankah Allah sang maha sutradara sangat adil, kaya dan bijaksana, jika kita ikuti aturannya tentunya Dia menepati janjinya.

Silsilah Mahabarata

Definisi Silsilah

Menurut Kamus Basa Sunda oleh M.A. Satjadibrata, arti silsilah itu ialah rangkaian keturunan seseorang yang ada kaitannya dengan orang lain yang menjadi istrinya dan sanak keluarganya. Silsilah tersebut adalah merupakan suatu susunan keluarga dari atas ke bawah dan ke samping, dengan menyebutkan nama keluarganya.

Arti silsilah itu bersifat universal, yang artinya orang-orang di seluruh dunia mempunyai silsilah keturunannya dan pula, di seluruh benua akan dimaklumi, bahwa semua orang pasti akan mengagungkan leluhurnya. Kita sering membaca silsilah keturunan para raja yang termasuk sejarah atau silsilah para penguasa yang memerintah suatau daerah, baik yang ditulis pada prasasti maupun benda lain yang artinya bukan hanya untuk dikenal saja, tetapi untuk digaungkan oleh segenap masyarakatnya, dan dikenang akan jasa-jasanya.

Jelas bagi kita, bahwa yang dimaksud dengan silsilah itu, ialah suatu daftar susunan nama orang-orang yang merupakan susunan keturunan dari suatu warga atau dinasti (wangsa), misalnya Dinasti Sriwijaya, Dinasti Syailendra, dan dinasti-dinasti lainya yang pernah berkuasa.

Demikian pula dalam pewayangan, ada salah satu nama keluarga besar yang menggunakan nama leluhurnya, contoh Kurawa. Kurawa artinya keturunan raja Kuru yang dahulu pernah memerintah negara Astina dan menjadi leluhur prabu Suyudana beserta adik-adiknya. Demikian pula dengan keluarga Pandawa atau sering disebut Barata Pandawa. Nama barata adalah juga merupakan nama leluhurnya, yang pernah berkuasa di Astina, sehingga diabadikan oleh para Pandawa degan Sebutan keluarga Barata Pandawa.

Apa sebabnya Pandawa dan Kurawa memakai dua nama leluhurnya yang berbeda, padahal mereka itu dari satu nenek moyang ? mereka hanya menggunakan nama leluhurnya yang dipandang pada saat itu memerintah, sebagai orang yang patut dan wajar untuk diabadikan namanya menurut meraka masing-masing.

Maksud Adanya Silsilah

Maksud penyusunan silsilah ini adalah sebagai ucapan syukur kepada para leluhurnya yang telah memberi bimbingan serta mengayomi dan yang lebih utama lagi, adalah bahwa seseorang lahir ke dunia, adalah karena adanya leluhurnya itu.

Penyusunan silsilah keturunan ini mempunyai arti yang penting bagi suatu keluarga, seperti untuk mengetahui keturunan siapa orang itu, untuk mengetahui siapa dan bagaimana leluhurnya itu, dan yang utama sekali, ialah bagaimana pandangan masyarakat terhadap leluhurnya itu, untuk dijadikan kenangan secara turun-temurun, agar keturunannya tidak kehilangan jejak leluhurnya, agar dapat dijadikan kebanggaan seluruh keturunannya dan dapat pula dijadikan contoh bila leluhurnya salah seorang pahlawan.

Dari segi lainpun silsilah ini mempunyai maksud yang penting pula dan dapat dibenarkan oleh agama dan negara manapun juga. Ada beberapa sudut pandang tentang adanya silsilah, yaitu dari sudut perorangan, dari sudut lingkungan masyarakat, dan dari sudut kepercayaan.

Ditinjau dari segi perorangan, pangagunggan leluhurnya itu dimaksudkan agar perilaku yang pernah dijalankan para leluhurnya menjadi contoh bagi keturunnan yang ditinggalkan dan diceritakan kembali kepada keturunan berikutnya tentang betapa besar jasanya dan keagunganya leluhur mereka tersebut. Dalam hal ini tentu hanya kebaikan-kebaikan saja yang diceritakan kembali, Demikian pula kadang-kadang ada yang menceritakan kagagahan dan kesaktiannya.

Maksud silsilah seseorang dalam lingkungan masyarakat ini, adalah untuk dikenal dan dikenang oleh masyarakat agar dijadikan seorang pahlawan dalam sejarah hidup bangsa tersebut. Sedangkan maksud utama penggunaan silsilah ini adalah sebagai tanda terima kasih kepada para leluhurnya atas suatu usaha pemulyaan, sebagai kenangan akan kebaikannya dan usahanya dalam mengayomi dan menjaga keselamatan keturunannya atau usaha pelestarian keturunannya. Sesuai dengan kepercayaan penduduk, di Bali misalnya, lain lagi dengan di Jawa atau daerah lain yang menganut ajaran Islam, demikian pula dengan masyarakat yang memeluk agama lain. Walaupun berbeda kepercayaan, tetapi di setiap suku bangsa memegang teguh terhadap adat-istiadatnya. atau kebiasaan dalam cara mengagungkan leluhurnya.

Ditinjau dari segi kepercayaan, telah menjadi kewajiban seseorang atau sekeluarga untuk mengenang dan mengagungkan leluhurnya dengan cara dan peraturan kepercayaannya masing-masing yang dianutnya. Bagi penganut ajaran Islam, para leluhurnya tersebut tidak boleh disembah dan dipuja, kecuali dikenang dan diagungkan, karena hanya Tuhan sajalah yang disembah dan dipuja. Maksud mengagungkan leluhurnya tersebut, agar kebaikan-kebaikan yang pernah dilaksanakan para leluhurnya menjadi bagian bagi keturunannya dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Adapun tujuan penyusunan silsilah adalah sebagai usaha pumuliaan artinya untuk memuliakan leluhurnya, usaha pelestarian kebijakan leluhurnya artinya agar leluhurnya itu tetap dikenang dan segala perilaku yang baik dijadikan contoh keturunannya. Kedua usaha tersebut disebut Dwi Dharma Bakti.

Penampilan Silsilah

Secara umum, penampilan silsilah tersebut hanya dipergunakan oleh orang-orang penting saja yang pada umumnya ditulis dalam buku-buku sejarah. Sedangkan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda antara tahun 1610 sampai tahun 1942, hanya para raja dan para bupati saja yang silsilahnya ditullis dan disusun dalam kitab-kitab sejarah.

Pada zaman Pra sejarah atau kepercayaan Animisme Dinamisme di Indonesia, di mana masyarakat mendewakan semua benda hidup dari roh nenek moyangnya. Jelas bagi kita bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu telah terbiasa mengagungkan leluhurnya yang diwujudkan dengan jalan upacara penyembahan leluhurnya, baik di rumah maupun di tempat yang khusus yang disediakan secara beramai-ramai.

Ketika kebudayaan Hindu berkembang di Indonesia pada umumnya, di Jawa pada khususnya, penyembahan terhadap roh itu tidaklah hilang hanya sifat dan bentuknya yang berubah. Selain mengagungkan leluhurnya dengan jalan menceritakan kembali kebaikannya, juga disatukan dengan penyembahan dan pemujaan terhadap para dewa yang menjadi mitos India, seperti Dewa Siwa, Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan ada pula yang menyembah Batari Durga.

Dengan jalan demikian, maka kesusasteraanpun ada dua macam, yaitu Kitab Ramayana dan Kitab Mahabharata, disamping itu terdapat pula cerita-cerita legenda rakyat, seperti Prabu Mikukuhan, Sri Sadana, dan lain-lainya.

Lakon-lakon tersebut di atas, dipergelarkan di muka umum, sehingga tidak terbatas pada lingkungan keluarga saja, namun umumpun dapat mendengarkan kabaikan-kabaikan apa yang diperbuat oleh leluhurnya itu. Hal tersebut jelas bahwa pangagungan kepada leluhur bangsa Indonesia itu sangat menguntungkan bagi kemekaran kebudayaan Hindu, karena dalam upacara tersebut dapat pula disisipkan kisah para dewa, yang disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk cerita Ramayana dan Mahabharata. Akhirnya kedua cerita yaitu cerita dari India dan legenda rakyat disatukan, dengan jalan cerita pokok dalam pergelaran tersebut, ialah kisah-kisah dari India dan adat kebiasaan hidup dan kehidupan serta kebiasaan lingkungan diambil dari kisah-kisah legenda rakyat.

Adapun cerita Mahabharata tersebut mengisahkan kepahlawanan Pandawa yang dianggap sebagai leluhur bangsa India, karena leluhur Pandawa menurut gaya India ialah raja Barata yang pernah memimpin di India. Karena silsilah Mahabharata gaya India tersebut tidak sesuai dengan adat kebiasaan dan lingkungan hidup bangsa Jawa, maka silsilah Mahabharata tersebut dirubah, seperti yang kita lihat pada Kitab Pustaka Raja Purwa, karya R, Ng. Ronggowarsito.

Disamping itu perlu pula diketahui bahwa Mahabharata adalah hasil sastra India yang berpusatkan kepada Dewa Siwa dan Kitab.

Silsilah Bharata.


Meneliti silsilah wayang dalam cerita Mahabharata tersebut, kita akan mendapat kesulitan kiranya, karena pada cerita itu terdapat dua jalur silsilah yang dihasilkan oleh dua kepercayaan, yaitu silsilah Mahabharata gaya India dan silsilah Mahabharata versi Pustaka Raja Purwa.

Sebagaimana telah kita ketahui, cerita Mahabharata adalah hasil karya sastra India yang berpusatkan kepada Dewa Siwa, maka silsilahnyapun tentu silsilah yang berdasarkan cerita Hindu di India, dan bukan keturunan dari para Dewa, namun para Pandawa merupakan keturunan dari raja Nahusta, seorang raja di India.

Lain halnya dengan silsilah para Pandawa menurut gaya Indonesia, bahwa para Pandawa adalah keturunan dari para dewa. Dari dewa turun temurun sampai kepada raja-raja yang memerintah di tanah Jawa.

Cerita Mahabharata versi Indonesia tersebut telah disesuaikan dengan tradisi bangsa Indonesia, di mana yang menjadi pusat perhatian dan pusat perkembangan silsilah yaitu Batara Guru, maksudnya agar masyarakat pada waktu itu percaya bahwa para raja Jawa adalah keturunan para dewa.

Menurut Mahabharat versi India, susunan silsilah itu disusun sebagai berikut, raja pertama yang memerintah India ialah Prabu Nahusta sebagai pendiri negara Hastina yang menurunkan raja-raja yaitu Prabu Nahusta, Prabu Yayati, Prabu Kuru, Prabu Dusanta, Prabu Barata, Prabu Hasti, Prabu Puru, Prabu Pratipa, Prabu Santanu hingga sampai Pandawa dan Kurawa.

Prabu Yadawa menurunkan raja-raja yang memerintah Mathura, seperti: Basudewa, Baladewa, Kresna dan lain-lainya. Prabu Puru yang menurunkan raja-raja yang memerintah negara Hastina, seperti Sentanu, Abiyasa, Pandu, Duryudana, Parikesit.

Prabu Kuru berputra Prabu Dusanta yang menikah dengan Dewi Sakuntala dan berputra Prabu Barata yang namanya dipakai gelar/julukan para Pandawa, sedangkan nama Prabu Kuru dipakai gelar para Kurawa.

Prabu Barata dikaruniai seorang putra yang bernama Prabu Hesti yang namanya diabadikan menjadi nama negara Hastina. Hesti artinya gajah, negara Hastina artinya negara gajah.

Pemakaian nama leluhurnya sebagai gelar suatu golongan keluarga, dimaksudkan untuk mengagungkan dan menyemarakan salah seorang leluhurnya, karena jasanya, dan karena amalnya terhedap negara.

Penggunaan gelar leluhurnya yang berlainan dengan keluarga dekatnya yang menggunakan nama leluhurnya dalam satu rumpun atau satu keluarga, menandakan bahwa leluhurnya itu, kesemuanya adalah seorang raja yang patut dibanggakan dan namanya diabadikan.

Silsilah Bharata Versi Pustaka Raja Purwa


Dalam perkembangan dan penyebaran di Indonesia, kedua cerita epos mitos tersebut bercampur dengan legenda-legenda rakyat, dan disampingnya masuk pula pengaruh kebudayaan Jawa asli sebagai peninggalan zaman Pra Sejarah dimana masyarakatnya berkepercayaan Animisme-Dinamisme.

Tokoh-tokoh yang pernah dipuja pada zaman Pra Sejarah, seperti Hyang Tunggal, Hyang Wenang, dimasukkan ke dalam silsilah Mahabharata dan dijadikan leluhur para Pandawa yang menurunkan raja-raja Jawa, sehingga merupakan silsilah campuran antara kepercayaan Hindu dan kepercayaan zaman Pra Sejarah. Maksud uraian ini adalah untuk menyatakan kepada masyarakat, bahwa para Pandawa adalah keturunan para Sang Hyang, demikian pula para raja yang memerintah pulau Jawa adalah keturunan para Pandawa.

Silsilah Mahabharata versi Pustaka Raja Purwa ini, dimulai dari Batara Guru yang menikah dengan Dewi Uma, berputra empat orang di antaranya Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Batara Brahma menikah dengan Dewi Raraswati berputrakan sebelas orang, di antaranya Batara Brahmanaraja yang menikah dengan Dewi Widati dan berputra Batara Parikenan. Sedangkan Batara Wisnu berputrakan Prabu Basurata yang menikah dengan putri Batara Brahma bernama Dewi Brahmaniyuta, dan berputrakan Dewi Brahmaneki.

Begawan Parikenan kemudian menikah dengan Dewi Brahmaniyuta berputrakan Dewi Kaniraras, Raden Kano, Raden paridarma. Karena Dewi Kaniraras putri sulung, maka calon raja di Purwacarita adalah Begawan Manumayasa yang menikah dengan Dewi Kaniraras. Raden Kano dan Raden Paridarma menjadi raja di negara lain. Dewi Kaniraras menkah dengan Begawan Manumayasa berputra Begawan Sekutrem dan menikah dengan Dewi Nilawati, dari pernikahan itu berputra Begawan Sakri yang menikah dengan Dewi Sati dan berputra Parasara.

Diceritakan, bahwa Begawan Parasara hendak menyeberangi Bengawan Jamuna, ia diseberangkan oleh seorang wanita yang badanya bau amis dan anyir karena menderita penyakitat bau anyir, dia adalah Dewi Rara Amis (Durgandini) putra Prabu Basuketi raja negara Wiratha. Dewi Rara Amis diobati Raden Parasara yang kemudian diperistri dan berputra Abiyasa, mereka bersama-sama membangun negara Gajahoya.

Perbedaan yang jelas dari kedua silsilah itu adalah silsilah Mahabharata versi India disebutkan leluhur Pandawa adalah Prabu Nahusta, leluhur Pandawa versi Pusta Raja Purwa adalah Sang Hyang.

Tiga Satria Pemanah

Arjuna merasa keberatan kalau harus bersaing dengan Suryaputra, karena Suryaputera memiliki kemampuan yang sama dengannya dalam ilmu memanah. Arjuna menolak bertanding dengan Suryaputra, dengan alasan karena Suryaputra bukan seorang satria. Ia seorang rakyat biasa, anak kusir Adirata, yang mempunyai tingkatan hanya seorang pembantu.

Alasan ini menjadikan Suryaputra dendam kepada Arjuna. Duryudana yang melihat kemampuan Suryaputra akhirnya mengangkat derajat Suryaputra menjadi saudara dari Kurawa. Duryudana memberikan pakaian seorang satria dan menganggap Suryaputra sebagai saudara. Menjadi saudara Kurawa, berarti juga masih saudara Pandawa. Namun, Arjuna tetap tidak mau bertanding dengan Suryaputra karena bagaimana juga ia tetap seorang sudra.

Arjuna melayangkan sebuah panah ke sebuah papan sasaran panah. Suryaputra secara diam-diam pun melayangkan sebuah panah. Panah Arjuna dan Suryaputra melayang beriringan bersana. Panah Arjuna menancap lebih dahulu di lingkaran angka 100. Sedangkan panah Suryaputra membelah panah Arjuna dan menancap di angka 100 pula.

Melihat panahnya terbelah dua, Arjuna menjadi marah dan tidak mengakui panah Suryaputra. Suryaputra tidak layak berdiri di tempat pendadaran.

Pandita Durna yang lebih mecintai Arjuna, memilih untuk mempersilakan Suryaputra keluar. Karena pendadaran ini khusus untuk keluarga Pandawa dan Kurawa. Jadi walaupun Suryaputra sudah menjadi seorang ksatria, tetap tidak diperbolehkan mengikuti pendadaran. Suryaputra semakin kecewa dan dendam dengan Arjuna.

Mulai saat itu, Suryaputra tidak pernah mengikuti pendadaran lagi. Ia lebih memilih belajar kanuragan ditempatnya sendiri, yaitu di Kadiratan.
Batara Surya sang ayahanda pun mendatanginya. Bathara Surya menyamar menjadi seorang pendita dan mengjarkan kanuragan pada Suryaputra. Sang pendita memberitahukan riwayat Suryaputra yang sebenarnya. Suryaputra menangis di pangkuan sang Begawan.

Begawan memberitahu bahwa Suryaputra adalah putera Batara Surya dan Dewi Kunti. Suryaputra dibuang oleh ayah Dewi Kunti, karena bayi Suryaputra dianggap aib bagi keluarga Mandura. Namun Bathara Surya menenangkannya bahwa ia akan selalu menjaganya.

Sejak dalam kandungan ibunya, Dewi Kunti, Bathara Surya telah memberikan pelindung berupa baju tamsir yang menempel dan telah bersatu dengan kulit Suryaputra. Tidak ada satu pusaka pun yang akan mampu melukai dirinya. Semu pusaka akan terpental kembali kepada pemiliknya.

Begawan juga memberitahu bahwa ibunya, Dewi Kunti memberi nama Karna. Sedangkan ayahnya, Batara Surya member nama dia, Suryaputra atau Suryatmaja. Dan sudah menjadi jangka dewa, bahwa pada perang besar nanti, Suryaputra akan berhadapan dengan Arjuna.

Setelah Suryaputra menghilang dari tempat pendadaran, Arjuna pun merasa menjadi satria lanang jagad, tidak ada lagi pesaing yang akan mengganggunya.

Sebenarnya, Arjuna masih mempunyai seorang pesaing lagi, yaitu Prabu Palgunadi, yang juga mahir dalam memanah. Walaupun ia tidak berguru pada Pandita Durna, namun cara memanahnya betul-betul sangat akurat. Arjuna merasa tersaingi, ia pun ingin bertemu dengan Palgunadi untuk menjajal kemampuan memanah Palgunadi.

Arjuna mendengar kabar bahwa Prabu Palgunadi akan pergi ke Sokalima untuk berguru pada Pandita Durna. Arjuna merasa cemburu pada Palgunadi, ia khawatir gurunya akan lebih menyayangi Palgunadi dibanding dirinya.

Arjuna pun memutuskan untuk pergi ke Sokalima. Dalam perjalanannya menuju Sokalima, Arjuna bertemu dengan rombongan Dewi Anggraini yang bermaksud menyusul suaminya, Prabu Palgunadi ke Sokalima. Melihat kecantikan Dewi Anggraini, Arjuna pun jatuh cinta kepada istri Prabu Palgunadi itu.

Namun, Dewi Anggraini tidak menanggapi cinta Arjuna. Arjuna terus berusaha merayu dan memaksa Dewi Anggraini, namun sang dewi tetap pada pendiriannya. Melihat Arjuna berlaku demikian, Aswatama, putera Pandita Durna yang kebtulan lewat disitu, segera menyerang Arjuna. Arjuna menjadi marah dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Dewi Anggraini memerintahkan agar para pengawalnya mempercepat perjalanannya.

Akhirnya, rombongan Dewi Anggraini sampai di Sokalima. Tidak lama, Arjuna juga sampai di Sokalima. Dewi Anggraini melaporkan kejadian yang baru dialaminya pada suaminya, Prabu Palgunadi yang saat itu sedang menghadap Pandita Durna untuk minta belajar memanah. Namun Pandita Durna belum memberikan kesanggupannya. Begitu mendengar laporan istrinya, Prabu Palgunadi menjadi marah.

Arjuna memberla diri, ia berkilah bahwa ia tidak akan tega melakukan perbuatan itu. Aswatama pun datang member kesaksian, bahwa apa yang dikatakan oleh Dewi Anggraini benar adanya. Arjuna menyangkal kesaksian Aswatama.

Prabu Palgunadi lebih percaya dengan istirinya dan kesaksian Aswatama. Ia sangat marah kepada Arjuna. Terjadilah perkelahian antara kedanya. Mereka saling mengeluarkan kemahiran ilmu memanah masing-masing.

Serangan panah Arjuna dapat dipatahkan oleh palgunadi. Arjuna semakin marah, ia pun membabi buta dengan panahnya yang akurat. Namun semua panah Arjuna dapat dikembalikan oleh Palgunadi.

Arjuna nampak kewalahan menghadapi Palgunadi, maka ia yang juga bernama Palguna menanggalkan panahnya. Arjuna menyerang dengan tangan kosong. Palgunadi pun melayani serangan Arjuna. Kini merka bertarung tanpa senjata.

Tanpa senjata, kekuatan mereka pun begitu seimbang. Tiba tiba Arjuna menangkap dan berusaha merebut cincin Mustika Ampal yang dipakai pada ibu jari tangan kanan Prabu Palgunadi.Namun cincin pada ibu jarinya telah menyatu menjadi satu, sehingga ketika cincin itu dicabut, maka Ibu jari Palgunadi ikut terlepas dari tangan kanan Palgunadi. Dan tidak diduga sebelumnya, Prabu Palgunadi tewas seketika.

Cincin Mustika Ampal itu merupakan hidup matinya Prabu Palgunadi. Jari bercincin Mustika Ampal Prabu Palgunadi yang terambil oleh Arjuna, tiba tiba lengket dan menyatu dengan jari jari Arjuna . Sehingga Arjuna tangan kanannya memiliki 6 jari.

Melihat kematian suaminya, Anggraeni melarikan diri. Aswatama mencoba melindungi Dewi Anggraeni dari kejaran Arjuna. Tetapi Aswatama dengan mudah dikalahkan Arjuna. Pandita Durna meminta Arjuna agar sadar atas perbuatannya, namun Arjuna seolah olah tidak mendengar kata kata Gurunya.

Arjuna merasa mendapatkan kesempatan untuk mempersunting Dewi Anggraeni menjadi istrinya. Ia terus mengejar Dewi Anggraeni hingga akhirnya langkah Dewi Anggaini terhenti, ketika jalan yang akan dilewati, berupa jurang dan tidak ada jalan lain. Akhirnya Dewi Anggraeni lebih memilih terjun kedalam jurang yang dalam daripada ia harus menikah dengan Arjuna. Dewi Anggraeni pun tewas.

Sukma Dewi Anggraeni sampai di Kahyangan Jonggringsaloka. Ia disambut sukma Prabu Palgunadi, suaminya. Mereka berdua memasuki Swargaloka.

Meskipun Dewi Anggraini sudah meninggal, Arjuna terus mengejar sukma Dewi Anggraeni yang akan memasuki Kahyangan Jonggringsaloka.

Batara Narada merasa heran,ketika Arjuna datang menemuinya dan minta agar Dewi Anggraeni di kembalikan pada Arjuna. Arjuna ingin menikahinya, karena Arjuna sangat mencintainya. Batara Narada sebenarnya keberatan. tetapi untuk mengelabuhi Arjuna, maka diciptakannya Dewi Anggraeni dari daun Tunjung.

Arjuna merasa bahagia bisa bersanding dengan Dewi Anggraeni. Mereka berdua turun ke marcapada. Namun sesampai di Arcapada Dewi Anggraeni berubah menjadi daun tunjung. Arjuna pun marah,ia ingin kembali ke Kahyangan. Datanglah Prabu Kresna, mencegah keinginan Arjuna untuk kembali ke Kahyangan. Prabu Kresna mengingatkan kalau semua yang terjadi ini sudah kehendak dewa.
 
Terima kasih telah visit !! Gunakan chrome untuk tampilan lebih baik !! ⌒o⌒Tinggalkan Follow dan komentarnya ^∇^